Minggu, 17 April 2011

IMAM MALIKI


Besarnya pengaruh ulama yang
mendalami mazhab Maliki ini
telah berlangsung sejak dahulu.

Lima orang kakek pendahulunya
merupakan pemuka mazhab
Imam Maliki di Makkah. Raja
Saudi Arabia Faishal, tak akan
membuat kebijakan terkait
dengan Masjidil Haram sebelum
berkonsultasi dengannya.

Ia belajar di Al Azhar Mesir dan
memperoleh gelar Doktor pada
usia 25 tahun, yang merupakan
orang Saudi pertama yang
mencapai gelar akademik
tertinggi pada usia termuda.

Sebagai seorang akademisi, ia
telah mengarang lebih dari 100
kitab. Muridnya tersebar di
seluruh dunia, terutama berasal
dari Indonesia, Malaysia, Mesir,
Yaman dan Dubai. Mereka yang
belajar di pesantrennya
difasilitasi penuh olehnya.

Sayyid Alawi Al Maliki meninggal tahun
2004 dan upacara
penguburannya merupakan
yang terbesar dalam 100 tahun
belakangan. Radio Arab Saudi
selama tiga hari penuh hanya
memutar al Qur’an untuk
menghormatinya.

Ayahnya, Sayid Alwi Al Maliki
adalah guru dari pendiri NU, KH
Hasyim Asy ’ari. Dia juga pernah
menjadi guru besar di Masjidil
Haram pada 1930-an dan 40-an
dan merupakan ulama terbesar
pada zamannya. Banyak ulama
sepuh dari Nahdlatul Ulama yang
menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-
Maliki yang merupakan ahli
hadist.

Penghormatan kepada Gus Dur,
yang waktu itu masih menjabat
sebagai ketua umum PBNU, oleh
orang terhormat ini dituturkan
oleh KH Said Aqil Siroj, yang
waktu itu menemaninya
bersama Ghofar Rahman, sekjen
Gus Dur dalam satu kunjungan
ke Mekkah.

Sebagai ulama terkemuka, Sayyid
Maliki selalu dikunjungi oleh
tamu dari berbagai negara.

Waktu Gus Dur datang ke
kediamannya, di ruang tamu
sudah banyak sekali orang yang
mengantri.

Begitu Gus Dur datang, ia
langsung dipersilahkan masuk,
bahkan diajak berbincang di
kamar tidur pribadinya, bukan di
ruang tamu. Gus Dur dikasih
barang
berharga sebagai tanda
penghormatan.

Dalam pertemuan tersebut, Kiai
Said mengggambarkan, “Begitu
hormatnya mereka berdua. Dan
mereka bukan orang
sembarangan, ” (mkf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar